LAMPUNG TIMUR – Kabarnegri.id – Sebuah aksi protes yang menyentuh hati sekaligus memicu perhatian luas di tengah masyarakat kini sedang bergema di wilayah Lampung. Seruan untuk berhenti membayar pajak yang digaungkan oleh warga bukanlah tanpa alasan, melainkan merupakan luapan rasa kecewa yang mendalam terhadap pemerintah daerah. Hal ini disebabkan oleh kondisi jalan rusak yang sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya, namun hingga kini tak kunjung ada perbaikan maupun penanganan yang nyata dari pihak berwenang.
Kisah keprihatinan ini menjadi sorotan publik dan menyebar luas di media sosial pada awal bulan Juli tahun 2026. Semuanya bermula dari sebuah rekaman video yang diunggah oleh seorang warga yang berasal dari Dusun Umbul Glimbung, Desa Bandar Agung, Kabupaten Lampung Timur. Dalam video tersebut, warga tersebut menyampaikan ungkapan yang penuh keprihatinan, seolah-olah memohon izin kepada Bupati setempat untuk tidak membayar pajak pada tahun ini.
Pernyataan sederhana namun tajam itu bukan bermaksud melanggar aturan, melainkan menjadi teriakan kecil yang mewakili suara banyak orang yang selama ini merasa terabaikan hak-haknya atas pelayanan dasar yang seharusnya didapatkan.
Kekecewaan yang mendalam mendorong warga mengambil keputusan yang tidak biasa. Mereka sepakat bahwa uang yang seharusnya disisihkan dan digunakan untuk membayar pajak kendaraan maupun pajak lainnya, kini dialihkan kegunaannya secara langsung. Uang tersebut mereka kumpulkan dan gunakan untuk membeli semen serta bahan bangunan lainnya guna memperbaiki jalan rusak yang menjadi akses utama kehidupan mereka sehari-hari.
Warga merasa sangat kecewa karena akses jalan utama yang mereka lalui setiap hari mengalami kerusakan yang sangat parah, berlubang-lubang, dan semakin memburuk dalam waktu yang sangat lama. Bertahun-tahun mereka menunggu harap-harap cemas menanti janji perbaikan, namun sayangnya tak kunjung ada realisasi dari pemerintah daerah. Akibatnya, jalan yang rusak itu menyulitkan perjalanan warga, menghambat kelancaran distribusi hasil bumi, serta membahayakan keselamatan siapa pun yang melintas.
Di tengah ketidakpastian dan keputusasaan menunggu bantuan yang tak kunjung datang, semangat persatuan dan kemandirian masyarakat pun bangkit. Sebagai solusi yang paling cepat dan nyata demi mengatasi kesulitan sendiri, warga memilih untuk bergerak bersama. Mereka bergotong royong bekerja sama memperbaiki jalan secara mandiri dengan tenaga dan biaya sendiri.
Langkah ini diambil semata-mata agar aktivitas transportasi warga bisa kembali berjalan lancar, tidak terganggu lagi oleh kondisi jalan yang rusak, serta kehidupan ekonomi dan sosial di lingkungan mereka dapat kembali berjalan sebagaimana mestinya. Kisah ini menjadi cermin sekaligus pengingat bagi semua pihak tentang betapa pentingnya perhatian serta kepedulian pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat kecil di pelosok desa.
Penulis: Ribut
Editor: Sumpeno







