Bekasi,- Kabarnegri.id – 30 Juni 2026 – Di tengah hiruk‑pikuk persiapan pemilihan kepala desa untuk masa bakti delapan tahun ke depan, periode 2026 hingga 2034, muncul suara keprihatinan mendalam dari sosok yang lama dikenal peduli pada nasib lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Abie FU, pegiat lingkungan sekaligus pemerhati masalah sosial, melontarkan pandangan kritis bahwa kontestasi politik tingkat desa kini telah kehilangan hakikatnya. Alih‑alih menjadi ajang pertukaran gagasan terbaik demi kemajuan bersama, pemilihan ini makin berubah menjadi medan pertarungan yang merobek tatanan kehidupan bermasyarakat.
Demokrasi yang Tercederai: Ancaman di Balik Kotak Suara
Menurut pengamatan Abie, nilai paling dasar dari demokrasi—yaitu kebebasan warga menentukan pilihannya tanpa rasa takut atau paksaan—kini berada di ambang kehancuran. Ia menolak keras segala bentuk tekanan, bujukan, maupun ancaman yang dilakukan pihak tertentu demi mengarahkan pilihan warga sesuai kehendak mereka sendiri.
“Demokrasi kita sedang cacat parah,” ujarnya dengan nada sendu namun tegas. “Padahal perbedaan pendapat seharusnya menjadi kekayaan bangsa, bukan alasan untuk saling menjauhkan atau menindas. Sungguh memilukan melihat warga diperlakukan berbeda hanya karena mereka tidak menjatuhkan suaranya kepada sosok yang diharapkan sekelompok pihak.”
Luka Sosial: Ketika Perbedaan Menjadi Dinding Pemisah
Hal yang paling dikhawatirkan Abie adalah apa yang ia sebut sebagai “luka sosial yang sulit sembuh”. Persaingan saat ini sudah tidak lagi sekadar di ruang publik, melainkan telah merembet masuk ke dalam kehidupan yang paling pribadi sekalipun. Di banyak tempat, perbedaan dukungan politik kini berubah menjadi tembok pemisah antarwarga. Hubungan baik bertetangga yang terjalin puluhan tahun kini retak, bahkan ikatan darah dalam satu keluarga pun tak luput terganggu.
“Jangankan hanya dengan tetangga, di dalam rumah sendiri pun kini ada yang saling mendiamkan, saling mencela, hingga bermusuhan hanya karena beda pilihan calon pemimpin. Inilah akibat politik yang tak beretika: ia meninggalkan sisa kebencian yang bertahan lama, jauh setelah kotak suara sudah ditutup dan pemenang ditetapkan,” sesalnya dengan rasa kecewa.
Kader Bayaran dan Perang Kata Tanpa Solusi
Keprihatinan itu makin bertambah melihat menjamurnya orang‑orang yang disiapkan sekadar sebagai pendukung bayaran—bukan karena memahami visi pembangunan—namun semata‑mata demi keuntungan sesaat. Keberadaan mereka, menurut Abie, turut mengaburkan penilaian warga sehingga lupa melihat apa yang sebenarnya dibutuhkan desanya.
Lebih menyedihkan lagi, para calon pemimpin pun kerap memberi teladan yang buruk. Alih‑alih bersaing menawarkan rencana kerja nyata, gagasan pemecahan masalah, atau langkah kemajuan desa, mereka justru sibuk menyerang pribadi lawan, menyebarkan berita tidak benar, serta saling menjatuhkan demi kemenangan sesaat. Pola pikir semacam ini dinilainya sebagai langkah mundur bagi kualitas kepemimpinan desa ke depannya.
Seruan Kembali ke Nurani dan Akal Sehat
Di akhir pandangannya, Abie mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berhenti sejenak dan merenung kembali makna pemilihan ini. Keputusan yang diambil hari ini akan menentukan arah jalan desa selama delapan tahun ke depan—waktu yang sangat panjang untuk sekadar diserahkan kepada janji manis atau tekanan pihak lain.
“Pilihlah pemimpin bukan karena dipaksa, bukan karena diberi imbalan, dan bukan sekadar ikut‑ikutan arus mayoritas. Gunakanlah akal sehat dan hati nurani. Carilah sosok yang terbukti jujur, dapat dipercaya, peduli lingkungan, serta berniat tulus mengangkat taraf hidup warga. Jangan sampai kita menukar masa depan desa kita hanya demi kepentingan pribadi atau kelompok semata. Jagalah persatuan kita, karena itu jauh lebih mahal harganya daripada sekadar kemenangan pemilu,” pesannya dengan harapan yang besar.
Sebagai penutup, disampaikan pesan sederhana namun mendalam bagi seluruh warga: Pilkades 2026–2034 adalah cermin kedewasaan kita sebagai warga. Mari kita buktikan bahwa suara rakyat tak bisa dibeli, dan persatuan desa tak boleh dipecah belah oleh kepentingan yang merusak.
Penulis: Abie fu







