BANTEN, – Kabarnegri.id – 29 Juni 2026 – Sebuah ruang diskusi terbuka yang penuh semangat digagas komunitas Pemuda Berdampak, menjadi wadah berharga bagi generasi muda untuk menelaah kesiapan diri serta peran apa saja yang bisa diemban menyambut seratus tahun kemerdekaan Indonesia. Kegiatan ini merupakan rangkaian pertama dari seri pertemuan interaktif yang mengangkat tema utama: “Membaca Indonesia Emas 2045: Sejauh Mana Kesiapan Pemuda Banten Menyongsong Masa Depan Bangsa?”. Di sini para peserta diajak menelusuri peluang sekaligus rintangan yang ada, serta merumuskan langkah‑langkah nyata agar visi besar bangsa ini bukan sekadar wacana, melainkan kenyataan yang dibangun bersama.
Perbincangan mendalam ini diisi oleh tiga pembicara yang memiliki latar belakang dan pengalaman beragam namun satu tujuan, yaitu: Ardhya Naufal Fahri, S.H., C.Med., C.IRP Sekretaris Wilayah Lembaga Pembinaan Pemuda Remaja Masjid BKPRMI Provinsi Banten; Bagas Yulianto Pendiri Pemuda Berdampak; serta Muhammad Husein, S.Pd., tokoh aktivis pembangunan masyarakat asal Banten. Masing‑masing memaparkan pandangan kritis namun penuh harapan tentang bagaimana putra‑putri daerah ini harus melangkah ke depan.
Sebagai inisiator kegiatan, Bagas Yulianto menekankan bahwa perubahan besar tak akan pernah tercipta oleh satu orang saja, melainkan lewat kekuatan persatuan dan kerja sama. “Kita tak boleh membiarkan diri hanya menjadi penonton yang diam menyaksikan perjalanan sejarah bangsa. Pemuda wajib bergerak maju, merajut kerja sama lintas kelompok, melahirkan pemikiran baru, serta menciptakan karya yang manfaatnya benar‑benar terasa hingga ke lapisan masyarakat terbawah. Ingatlah baik‑baik: rupa Banten dan Indonesia masa depan tak lain adalah hasil dari apa yang kita tanam dan bangun mulai hari ini,” ujarnya dengan tegas.
Sementara itu, Ardhya Naufal Fahri mengingatkan agar kemajuan tak hanya diukur dari kekayaan materi atau kecanggihan teknologi semata. Fondasi paling kokoh terletak pada kualitas watak manusia yang membangunnya. “Cita‑cita Indonesia Emas harus didukung oleh generasi yang matang jiwanya. Pemuda perlu tumbuh menjadi pribadi yang berpegang teguh pada nilai luhur, peka terhadap kesusahan sesama, serta siap menyumbangkan kemampuan terbaiknya demi kepentingan bersama, bukan sekadar keuntungan pribadi,” paparnya.
Sudut pandang lain disampaikan Muhammad Husein yang mengajak pemuda lebih dekat melihat potensi luar biasa yang dimiliki tanah kelahirannya sendiri. “Banten diberkahi kekayaan alam, letak strategis, dan sumber daya manusia yang mampu menjadikannya salah satu tiang penyangga utama kemajuan nasional kelak. Namun semua kelebihan itu tak akan berarti apa‑apa jika tak dijaga, diarahkan, dan diperjuangkan oleh pemuda sendiri. Kita harus berani berbicara, berani terlibat, dan berani mengawal setiap kebijakan pembangunan agar tepat sasaran dan berpihak pada rakyat,” pesannya.
Melalui pertemuan ini, Pemuda Berdampak mengajak seluruh kalangan muda mengubah pandangan: visi Indonesia Emas bukan lagi sekadar target pemerintah atau rencana negara semata, melainkan gerakan bersama yang harus dimulai dari lingkungan terdekat—mulai dari desa, kecamatan, hingga provinsi tempat kita berpijak.
Dengan semangat pokok “Mengabdi, Bergerak, Berdampak”, Diskusi Interaktif Serial I ini kini menjadi titik awal persekutuan gagasan dan aksi nyata. Semua sepakat berpegang pada satu arah langkah: “Membaca Indonesia Emas 2045, Mengawal Banten Menuju Masa Depan – Mengabdi, Bergerak, Berdampak.”
Penulis: Sandi
Editor: Marfana







